Banyak pertanyaan-pertanyaan sulit yang kita jumpai dalam kehidupan ini. Terutama pertanyaan-pertanyaan yang berkenaan dengan dunia yang akan datang, yaitu dunia setelah kematian manusia. Suatu misteri yang sulit diungkap, tetapi pemikiran tentang dunia itu ada dalam tiap agama di dunia ini.
Dalam rangkaian pelayanan yang hendak diselesaikan Yesus, segolongan orang Saduki mendatangi Dia dan melontarkan suatu pertanyaan. Golongan Saduki adalah golongan dari bangsa Yahudi yang tidak memercayai adanya kebangkitan.
Yesus menjawab mereka dengan memaparkan bahwa kehidupan dunia sekarang ini berbeda dengan kehidupan dunia yang akan datang, yaitu dunia setelah kebangkitan. Jika di dunia, anak manusia kawin dan dikawinkan, tidak demikian dengan dunia kekal. Sebagaimana pemikiran manusia dalam kehidupan dunia ini tidak boleh disamakan dengan pemikiran pada dunia setelah kebangkitan. Pemikiran manusia yang sudah jatuh dalam dosa sangat terbatas dalam dunia sekarang ini. Jadi bagaimana mungkin dunia yang terbatas memahami keberadaan dunia kekal? Maka perlu percaya dahulu akan adanya kebangkitan, baru dapat memikirkannya. Lalu Yesus melanjutkan bahwa Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub. Meskipun mereka sudah mati secara fisik, tetapi mereka tetap hidup di hadapan Allah. Maka sebutan itu tetap ada pada Allah. Mengacu pada kutipan Musa (Kel. 3), itulah Allah yang sama, yang menjumpai Musa waktu dipanggil.
Allah yang sama adalah Allah yang disembah oleh kita, orang percaya yang hidup dizaman ini. Memercayai Allah membuat kita tahu bahwa ada kehidupan kekal setelah kematian. Kehidupan kekal itu sama sekali berbeda dengan kehidupan duniawi yang kita hidupi sekarang ini. Maka jangan terjebak pada filosofi dunia tentang dunia kekal. Lebih baik percaya terlebih dahulu kepada Kristus yang kekal, maka kita akan memahami kekekalan dalam pengertian yang benar, karena Dialah Kekekalan itu sendiri dan dari Dialah kekekalan kita berasal.
Jangan sia-siakan anugerah (Lukas 20:9-19)
Walau seringkali mendapat teguran dari Yesus, ahli-ahli Taurat dan imam-imam kepala tetap bersikukuh pada kebenaran diri mereka masing-masing. Memang orang berdosa tidak mungkin bisa berubah dan bertobat dari dosa-dosanya kalau bukan karena anugerah Tuhan yang lebih dahulu dicurahkan kepada mereka.
Hari ini, melalui perumpamaan yang disampaikan Tuhan Yesus, kita melihat lagi betapa jahat perbuatan ahli-ahli Taurat dan imam-imam kepala. Yesus mengumpamakan mereka sebagai penggarap-penggarap yang menyewa kebun anggur dari pemilik kebun anggur yang melambangkan Allah sendiri. Ketika suatu kali, si pemilik mengutus hambanya untuk meminta hasil kebun anggurnya, para penggarap kebun malah memukul dan menyuruh dia pulang tanpa hasil. Demikianlah kejadian ini berulang sampai hamba yang ketiga diutus. (Bdk. Luk. 11 : 49). Terakhir, si pemilik kebun anggur mengutus anaknya sendiri untuk melakukan tugas yang sama, seperti yang telah dilakukan hamba-hamba ayahnya sebelumnya. Namun apa yang terjadi? Mereka melempar si anak keluar dan membunuh dia karena dialah ahli waris dari pemilik kebun anggur itu. Para penggarap ternyata tidak melaksanakan tugas dengan benar. Malah mereka melakukan kejahatan yang luar biasa besar. Maka Tuhan menegur dengan keras, bahwa barangsiapa yang masih bermain-main dengan Tuhan, akibatnya ia akan hancur dan remuk (ayat 18).
Ini adalah gambaran bangsa Israel yang berulang kali menolak Kerajaan Allah. Berkali-kali Allah mengutus nabi-nabi-Nya kepada mereka, hingga pada puncak-Nya, Dia mengirimkan Yesus, Anak-Nya untuk berbicara kepada mereka. Namun tetap saja, mereka menolak. Mereka justru kemudian menyalibkan Yesus sebagai puncak pemberontakan mereka. Sungguh ironis!
Sebagai orang percaya di zaman sekarang ini, kita tentu tidak meragukan Yesus sebagai Anak Allah, Juruselamat yang telah diberikan Bapa kepada kita. Maka jangan sia-siakan anugerah yang luar biasa itu. Marilah kita selalu membuka hati dan menerima kedatangan-Nya.
Hari ini, melalui perumpamaan yang disampaikan Tuhan Yesus, kita melihat lagi betapa jahat perbuatan ahli-ahli Taurat dan imam-imam kepala. Yesus mengumpamakan mereka sebagai penggarap-penggarap yang menyewa kebun anggur dari pemilik kebun anggur yang melambangkan Allah sendiri. Ketika suatu kali, si pemilik mengutus hambanya untuk meminta hasil kebun anggurnya, para penggarap kebun malah memukul dan menyuruh dia pulang tanpa hasil. Demikianlah kejadian ini berulang sampai hamba yang ketiga diutus. (Bdk. Luk. 11 : 49). Terakhir, si pemilik kebun anggur mengutus anaknya sendiri untuk melakukan tugas yang sama, seperti yang telah dilakukan hamba-hamba ayahnya sebelumnya. Namun apa yang terjadi? Mereka melempar si anak keluar dan membunuh dia karena dialah ahli waris dari pemilik kebun anggur itu. Para penggarap ternyata tidak melaksanakan tugas dengan benar. Malah mereka melakukan kejahatan yang luar biasa besar. Maka Tuhan menegur dengan keras, bahwa barangsiapa yang masih bermain-main dengan Tuhan, akibatnya ia akan hancur dan remuk (ayat 18).
Ini adalah gambaran bangsa Israel yang berulang kali menolak Kerajaan Allah. Berkali-kali Allah mengutus nabi-nabi-Nya kepada mereka, hingga pada puncak-Nya, Dia mengirimkan Yesus, Anak-Nya untuk berbicara kepada mereka. Namun tetap saja, mereka menolak. Mereka justru kemudian menyalibkan Yesus sebagai puncak pemberontakan mereka. Sungguh ironis!
Sebagai orang percaya di zaman sekarang ini, kita tentu tidak meragukan Yesus sebagai Anak Allah, Juruselamat yang telah diberikan Bapa kepada kita. Maka jangan sia-siakan anugerah yang luar biasa itu. Marilah kita selalu membuka hati dan menerima kedatangan-Nya.
Tuesday, November 30, 2010
Berhikmat dalam mengambil keputusan (2 Samuel 19:24-43)
Penyelesaian masalah tidak selalu berlangsung cepat dan mulus. Ada saja benang kusut yang harus diurai dengan hati-hati dan makan waktu, bahkan boleh jadi tidak tuntas.
Kasus Mefiboset adalah salah satunya. Daud bertemu Mefiboset yang mengadukan pengkhianatan hambanya, Ziba (26-27). Ziba memfitnah Mefiboset dengan mengatakan bahwa ia mau memakai kesempatan kalahnya Daud untuk mendapatkan kembali kerajaan ayahnya (2Sam. 16:3). Kelihatannya Mefiboset berkata jujur. Namun mungkin karena Daud sudah terlanjur mengambil
keputusan untuk memberikan semua milik Mefiboset kepada Ziba (2Sam. 16:4), Daud enggan untuk membongkar lagi masalah itu. Daud hanya memerintahkan supaya harta Mefiboset dibagi dua dengan Ziba (29). Bila Mefiboset berkata jujur, maka keputusan Daud jelas tidak adil. Namun Daud kelihatannya tidak perduli.
Lalu ada masalah lain yang lebih besar. Ayat 40-43 menunjukkan bahwa ada keretakan antara Yehuda dengan Israel (suku-suku utara). Israel mengeluh bahwa Yehuda mendapat tempat istimewa dalam mengawal Daud menyeberangi Yordan (41). Padahal Yehudalah yang pertama-tama mendukung pemberontakan Absalom. Yehuda pula yang terakhir mengakui Daud kembali sebagai raja. Maka menurut orang Israel, sungguh tidak pantas jika orang Yehuda mendapat hak istimewa itu. Sementara Yehuda sendiri merasa bahwa mereka adalah kerabat Daud sehingga mereka tidak menemui ketidakpantasan untuk mengawal Daud.
Sungguh banyak masalah yang harus diselesaikan oleh Daud, walaupun kasus pemberontakan Absalom telah berakhir. Untuk itu Daud harus bersikap bijak dan berpikir masak-masak sehingga tidak mengambil keputusan yang keliru, seperti yang pernah dia lakukan terhadap Mefiboset.
Namun bukan hanya raja yang perlu bersikap bijak dalam mengambil keputusan. Kita pun harus demikian. Maka sangat perlu bagi kita untuk meminta hikmat Tuhan sebelum mengambil keputusan, dalam hal apa pun.
Kasus Mefiboset adalah salah satunya. Daud bertemu Mefiboset yang mengadukan pengkhianatan hambanya, Ziba (26-27). Ziba memfitnah Mefiboset dengan mengatakan bahwa ia mau memakai kesempatan kalahnya Daud untuk mendapatkan kembali kerajaan ayahnya (2Sam. 16:3). Kelihatannya Mefiboset berkata jujur. Namun mungkin karena Daud sudah terlanjur mengambil
keputusan untuk memberikan semua milik Mefiboset kepada Ziba (2Sam. 16:4), Daud enggan untuk membongkar lagi masalah itu. Daud hanya memerintahkan supaya harta Mefiboset dibagi dua dengan Ziba (29). Bila Mefiboset berkata jujur, maka keputusan Daud jelas tidak adil. Namun Daud kelihatannya tidak perduli.
Lalu ada masalah lain yang lebih besar. Ayat 40-43 menunjukkan bahwa ada keretakan antara Yehuda dengan Israel (suku-suku utara). Israel mengeluh bahwa Yehuda mendapat tempat istimewa dalam mengawal Daud menyeberangi Yordan (41). Padahal Yehudalah yang pertama-tama mendukung pemberontakan Absalom. Yehuda pula yang terakhir mengakui Daud kembali sebagai raja. Maka menurut orang Israel, sungguh tidak pantas jika orang Yehuda mendapat hak istimewa itu. Sementara Yehuda sendiri merasa bahwa mereka adalah kerabat Daud sehingga mereka tidak menemui ketidakpantasan untuk mengawal Daud.
Sungguh banyak masalah yang harus diselesaikan oleh Daud, walaupun kasus pemberontakan Absalom telah berakhir. Untuk itu Daud harus bersikap bijak dan berpikir masak-masak sehingga tidak mengambil keputusan yang keliru, seperti yang pernah dia lakukan terhadap Mefiboset.
Namun bukan hanya raja yang perlu bersikap bijak dalam mengambil keputusan. Kita pun harus demikian. Maka sangat perlu bagi kita untuk meminta hikmat Tuhan sebelum mengambil keputusan, dalam hal apa pun.
Celik melihat Tuhan (2 Tawarikh 28:1-27)
Betapa jauh hati Ahas dari Allah. Kalau kita perhatikan kehidupan Raja Ahas, maka tak ada satu pun dari antaranya yang menunjukkan perhatiannya terhadap Tuhan, Allah Israel. Hidupnya bergerak hanya dalam kegelapan.
Ahas melakukan penyembahan berhala yang melibatkan ritual keji, yaitu dengan mengurbankan anak-anak (2-4). Sungguh mengerikan. Dia tak menyadari bahwa perbuatan yang menyakiti hati Tuhan itu akan membangkitkan murka-Nya. Tak heran bila Allah kemudian menghukum Ahas dengan membangkitkan raja Aram untuk menyerang dia (16-21). Namun hal ini pun tidak membuat mata Ahas
menjadi celik. Mata hatinya telah menjadi buta hingga tak dapat melihat bahwa Tuhan berada di balik semua itu. Malah tanpa merasa malu, ia mengharapkan pertolongan dari raja negeri Asyur (16-21). Suatu harapan yang justru kemudian berbalik menjadi bumerang bagi dia (20-21). Iman Raja Ahas pun makin terpuruk. Teguran dan hajaran Tuhan tidak membuat mata hatinya terbuka untuk melihat maksud Tuhan. Kegelapan hati justru membuat Ahas mengira bahwa raja Asyur menang karena pertolongan allahnya. Maka dalam kebodohannya, Ahas malah mempersembahkan korban kepada allah asing (22-25). Ironis sekali! Sungguh tak ada satu pun cerminan bahwa Ahas adalah anak dari Yotam, raja yang hidupnya berkenan bagi Allah.
Hidup Ahas menjadi suatu peringatan bagi kita. Bila tak ada satu pun peristiwa dalam hidup yang membuat mata hati kita terbuka untuk melihat bahwa ada maksud Tuhan di dalamnya, maka kita perlu waspada. Kita perlu memeriksa diri, apakah sesungguhnya kegelapan sedang menyelubungi hati kita, hingga tak dapat melihat satu pun karya Allah dalam hidup kita, walau hanya berupa suatu sentilan kecil. Bila hal itu yang sedang terjadi dalam hidup kita, datanglah pada Tuhan. Minta Dia menyingkapkan selubung itu dari hati kita agar kita dapat melihat Dia dan terbuka pada karya dan maksud-maksud-Nya di dalam hidup kita, bagi kemuliaan-Nya.
Ahas melakukan penyembahan berhala yang melibatkan ritual keji, yaitu dengan mengurbankan anak-anak (2-4). Sungguh mengerikan. Dia tak menyadari bahwa perbuatan yang menyakiti hati Tuhan itu akan membangkitkan murka-Nya. Tak heran bila Allah kemudian menghukum Ahas dengan membangkitkan raja Aram untuk menyerang dia (16-21). Namun hal ini pun tidak membuat mata Ahas
menjadi celik. Mata hatinya telah menjadi buta hingga tak dapat melihat bahwa Tuhan berada di balik semua itu. Malah tanpa merasa malu, ia mengharapkan pertolongan dari raja negeri Asyur (16-21). Suatu harapan yang justru kemudian berbalik menjadi bumerang bagi dia (20-21). Iman Raja Ahas pun makin terpuruk. Teguran dan hajaran Tuhan tidak membuat mata hatinya terbuka untuk melihat maksud Tuhan. Kegelapan hati justru membuat Ahas mengira bahwa raja Asyur menang karena pertolongan allahnya. Maka dalam kebodohannya, Ahas malah mempersembahkan korban kepada allah asing (22-25). Ironis sekali! Sungguh tak ada satu pun cerminan bahwa Ahas adalah anak dari Yotam, raja yang hidupnya berkenan bagi Allah.
Hidup Ahas menjadi suatu peringatan bagi kita. Bila tak ada satu pun peristiwa dalam hidup yang membuat mata hati kita terbuka untuk melihat bahwa ada maksud Tuhan di dalamnya, maka kita perlu waspada. Kita perlu memeriksa diri, apakah sesungguhnya kegelapan sedang menyelubungi hati kita, hingga tak dapat melihat satu pun karya Allah dalam hidup kita, walau hanya berupa suatu sentilan kecil. Bila hal itu yang sedang terjadi dalam hidup kita, datanglah pada Tuhan. Minta Dia menyingkapkan selubung itu dari hati kita agar kita dapat melihat Dia dan terbuka pada karya dan maksud-maksud-Nya di dalam hidup kita, bagi kemuliaan-Nya.
Pemimpin yang takut akan Allah (2 Tawarikh 29:1-36)
Keberadaan seorang pemimpin sangat mempengaruhi kehidupan orang-orang yang dia pimpin. Setelah dipimpin oleh Raja Ahas, yang hidupnya tidak menyenangkan hati Allah, Yehuda kemudian dipimpin oleh Hizkia, yang hidupnya berbeda jauh dibandingkan dengan hidup ayahnya, Ahas. Hizkia hidup dengan menyenangkan hati Tuhan.
Berbeda dengan Ahas, kita dapat melihat kasih Hizkia kepada Allah melalui perhatiannya pada bait Allah. Ahas telah menutup bait Allah (6-7) dan mendirikan pusat penyembahan kepada Allah lain di tanah itu
(28:24-25). Namun Hiz-kia membuka kembali bait itu dan memperbaikinya agar bisa digunakan sebagaimana mestinya (3, 5). Sebagai raja, ia ingin bangsanya kembali kepada Allah (10). Maka hal berikut yang dia lakukan adalah memerintahkan kaum Lewi untuk melakukan pentahiran bait Allah, termasuk perkakas yang dibuang pada masa pemerintahan Raja Ahas (11-18). Lalu ibadah pun dimulai. Korban bakaran dipersembahkan di atas mez-bah (24) dan puji-pujian bagi Tuhan dilantunkan (29-30). Semua rakyat bersukacita atas apa yang terjadi saat itu (36).
Sungguh besar pengaruh Raja Hizkia sehingga terjadi perubahan radikal dalam kehidupan rakyat. Bila sebelumnya rakyat berbalik dari Allah, kini rakyat kembali kepada Allah. Rakyat serta para pemimpin kota, para imam dan kaum Lewi, semuanya bergerak seiring dengan pembaruan yang Hizkia sedang kerjakan.
Kita tentu senang bila memiliki pemimpin yang memiliki visi dan misi yang jelas. Visi dan misi yang mengarah pada suatu perubahan yang membawa pembaruan. Pembaruan untuk meninggalkan keterpurukan iman, untuk mencelikkan mata hati yang buta, yang mendorong hati untuk terbuka pada kasih dan karya Allah. Kita perlu berdoa agar bangkit pemimpin-pemimpin yang demikian di lingkungan gereja dan masyarakat kita. Kita pun perlu mempersiapkan orang-orang muda agar suatu saat kelak mereka menjadi pemimpin, yang bukan hanya ingin dihormati, tetapi yang melayani.
Berbeda dengan Ahas, kita dapat melihat kasih Hizkia kepada Allah melalui perhatiannya pada bait Allah. Ahas telah menutup bait Allah (6-7) dan mendirikan pusat penyembahan kepada Allah lain di tanah itu
(28:24-25). Namun Hiz-kia membuka kembali bait itu dan memperbaikinya agar bisa digunakan sebagaimana mestinya (3, 5). Sebagai raja, ia ingin bangsanya kembali kepada Allah (10). Maka hal berikut yang dia lakukan adalah memerintahkan kaum Lewi untuk melakukan pentahiran bait Allah, termasuk perkakas yang dibuang pada masa pemerintahan Raja Ahas (11-18). Lalu ibadah pun dimulai. Korban bakaran dipersembahkan di atas mez-bah (24) dan puji-pujian bagi Tuhan dilantunkan (29-30). Semua rakyat bersukacita atas apa yang terjadi saat itu (36).
Sungguh besar pengaruh Raja Hizkia sehingga terjadi perubahan radikal dalam kehidupan rakyat. Bila sebelumnya rakyat berbalik dari Allah, kini rakyat kembali kepada Allah. Rakyat serta para pemimpin kota, para imam dan kaum Lewi, semuanya bergerak seiring dengan pembaruan yang Hizkia sedang kerjakan.
Kita tentu senang bila memiliki pemimpin yang memiliki visi dan misi yang jelas. Visi dan misi yang mengarah pada suatu perubahan yang membawa pembaruan. Pembaruan untuk meninggalkan keterpurukan iman, untuk mencelikkan mata hati yang buta, yang mendorong hati untuk terbuka pada kasih dan karya Allah. Kita perlu berdoa agar bangkit pemimpin-pemimpin yang demikian di lingkungan gereja dan masyarakat kita. Kita pun perlu mempersiapkan orang-orang muda agar suatu saat kelak mereka menjadi pemimpin, yang bukan hanya ingin dihormati, tetapi yang melayani.
Meniru teladan (2 Tawarikh 27:1-9)
"Orang yang bijak adalah orang yang berhati-hati dan menjauhi kejahatan..." demikian kata penulis Amsal (Ams. 14:16). Maka dapat dikatakan bahwa Yotam termasuk orang bijak, sebab ia tahu membedakan mana yang benar dan mana yang tidak. Yang tidak benar harus dijauhi.
Uzia, ayah Yotam, adalah raja yang dapat disebut berhasil dalam kepemimpinannya. Ketika memerintah saat berusia dua puluh lima tahun, Yotam meneruskan apa yang telah dilakukan ayahnya, yang menurut catatan Alkitab, benar di mata Tuhan (2). Sama seperti ayahnya telah meniru teladan dari kakek Yotam, yaitu Amazia (2Taw. 26:4). Banyak hal yang Yotam lakukan dalam masa pemerintahannya (3-5). Alkitab
mencatat bahwa semua itu terjadi karena Yotam setia dan taat kepada Allahnya (6). Meski demikian, Yotam cukup kritis sehingga tidak menelan bulat-bulat apa yang dia lihat dalam hidup ayahnya. Dari bacaan kemarin, kita tahu bahwa Uzia, ayah Yotam, telah melakukan hal yang tidak disukai Tuhan. Setelah berhasil sebagai raja, Uzia merasa berhak masuk ke Bait Allah dan melakukan tugas imam. Padahal Tuhan mengkhususkan tugas itu hanya bagi para imam keturunan Harun (2Taw. 26:16). Maka dalam hal ini, Yotam menunjukkan perubahan dan kemajuan. Kita memang perlu bersikap kritis dalam mempelajari hidup seseorang, karena tak seorang pun yang sempurna. Yang patut menjadi cerminan kita hanyalah Kristus, Tuhan kita. Dialah yang sempurna dan mulia.
Namun sayang, dalam gambaran yang nyaris sempurna sebagai seorang raja, Yotam belum berhasil memengaruhi rakyatnya untuk hidup takut akan Tuhan sama seperti dirinya (2). Mereka tidak meniru teladan Yotam, raja mereka. Kita memang tidak bisa menyalahkan Yotam, sebab mungkin saja ia pernah berusaha melakukan pembaruan, tetapi rakyat berkeras hati dan tak mau bertobat. Ini menjadi catatan bagi kita, bahwa bisa saja orang yang kita bimbing tidak mengikuti teladan kita. Namun jangan sampai kita tawar hati, apa lagi mundur. Kita harus setia mendoakan mereka.
Uzia, ayah Yotam, adalah raja yang dapat disebut berhasil dalam kepemimpinannya. Ketika memerintah saat berusia dua puluh lima tahun, Yotam meneruskan apa yang telah dilakukan ayahnya, yang menurut catatan Alkitab, benar di mata Tuhan (2). Sama seperti ayahnya telah meniru teladan dari kakek Yotam, yaitu Amazia (2Taw. 26:4). Banyak hal yang Yotam lakukan dalam masa pemerintahannya (3-5). Alkitab
mencatat bahwa semua itu terjadi karena Yotam setia dan taat kepada Allahnya (6). Meski demikian, Yotam cukup kritis sehingga tidak menelan bulat-bulat apa yang dia lihat dalam hidup ayahnya. Dari bacaan kemarin, kita tahu bahwa Uzia, ayah Yotam, telah melakukan hal yang tidak disukai Tuhan. Setelah berhasil sebagai raja, Uzia merasa berhak masuk ke Bait Allah dan melakukan tugas imam. Padahal Tuhan mengkhususkan tugas itu hanya bagi para imam keturunan Harun (2Taw. 26:16). Maka dalam hal ini, Yotam menunjukkan perubahan dan kemajuan. Kita memang perlu bersikap kritis dalam mempelajari hidup seseorang, karena tak seorang pun yang sempurna. Yang patut menjadi cerminan kita hanyalah Kristus, Tuhan kita. Dialah yang sempurna dan mulia.
Namun sayang, dalam gambaran yang nyaris sempurna sebagai seorang raja, Yotam belum berhasil memengaruhi rakyatnya untuk hidup takut akan Tuhan sama seperti dirinya (2). Mereka tidak meniru teladan Yotam, raja mereka. Kita memang tidak bisa menyalahkan Yotam, sebab mungkin saja ia pernah berusaha melakukan pembaruan, tetapi rakyat berkeras hati dan tak mau bertobat. Ini menjadi catatan bagi kita, bahwa bisa saja orang yang kita bimbing tidak mengikuti teladan kita. Namun jangan sampai kita tawar hati, apa lagi mundur. Kita harus setia mendoakan mereka.
Thursday, November 25, 2010
Ketika Tuhan Meminta
Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: "Abraham," lalu sahutnya: "Ya, Tuhan." Firman-Nya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu." Kejadian 22 : 1-2
Sering kali keinginan yang muncul dalam hati Anda terkadang merupakan cara Tuhan menaruh sebuah visi dalam hidup kita. Walaupun sepertinya keinginan tersebut sepertinya tidak berkaitan dengan panggilan kita, namun dalam perjalanan menuju penggenapan, maka kita akan menemukan bagaimana Tuhan menjalin semua itu menjadi sebuah kesatuan untuk menggenapi rencana-Nya dalam hidup Anda.
Namun dalam perjalanan menuju penggenapan janji atau visi itu, ada suatu saat dimana Anda mengalami seperti pengalaman Abraham. Saat Abraham sedang bersukacita dan menikmati waktunya bersama Ishak sang “anak perjanjian”, tiba-tiba Tuhan meminta agar anak tersebut dikorbankan dihadapan-Nya.
Bagaimana jika Anda menjadi Abraham? Mungkin Anda akan berkata, “Kok, Tuhan tega sekali sih.. Mengapa sesuatu yang sudah Dia berikan kok diminta lagi?” Namun tidak demikian dengan respon Abraham. Dia tidak mempertanyakan perintah Tuhan, karena dia percaya sepenuhnya kepada Tuhan. Tanpa banyak alasan, dia menuju bukit pengorbanan itu.
Kata-Nya: "Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri--demikianlah firman TUHAN--:Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku, maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya. Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku." Kejadian 22: 16-18
Tuhan disenangkan dengan respon Abraham. Yang Tuhan minta dari Abraham sebenarnya bukanlah Ishak, namun hati Abraham. Tuhan menguji hatinya, apakah hati Abraham masih milik Tuhan atau milik Ishak. Tetapi Tuhan menemukan bahwa hati Abraham masih tetap tertuju padanya dan tidak teralihkan sekalipun ia dilimpahi dengan berkat yang melimpah. Bagaimana dengan Anda, masihkah hati Anda tertuju pada Tuhan? Ketika Tuhan meminta sesuatu yang bagi kita merupakan sesuatu yang sangat berharga, kalau mau jujur sering kali kita menolak, hati kita sakit, kita menjadi kecewa dengan Tuhan. Tapi biarlah melalui pelajaran mengenai Abraham ini menguatkan kita.
Ad by PromoteBurner.com'; } ?>
Sering kali keinginan yang muncul dalam hati Anda terkadang merupakan cara Tuhan menaruh sebuah visi dalam hidup kita. Walaupun sepertinya keinginan tersebut sepertinya tidak berkaitan dengan panggilan kita, namun dalam perjalanan menuju penggenapan, maka kita akan menemukan bagaimana Tuhan menjalin semua itu menjadi sebuah kesatuan untuk menggenapi rencana-Nya dalam hidup Anda.
Namun dalam perjalanan menuju penggenapan janji atau visi itu, ada suatu saat dimana Anda mengalami seperti pengalaman Abraham. Saat Abraham sedang bersukacita dan menikmati waktunya bersama Ishak sang “anak perjanjian”, tiba-tiba Tuhan meminta agar anak tersebut dikorbankan dihadapan-Nya.
Bagaimana jika Anda menjadi Abraham? Mungkin Anda akan berkata, “Kok, Tuhan tega sekali sih.. Mengapa sesuatu yang sudah Dia berikan kok diminta lagi?” Namun tidak demikian dengan respon Abraham. Dia tidak mempertanyakan perintah Tuhan, karena dia percaya sepenuhnya kepada Tuhan. Tanpa banyak alasan, dia menuju bukit pengorbanan itu.
Kata-Nya: "Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri--demikianlah firman TUHAN--:Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku, maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya. Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku." Kejadian 22: 16-18
Tuhan disenangkan dengan respon Abraham. Yang Tuhan minta dari Abraham sebenarnya bukanlah Ishak, namun hati Abraham. Tuhan menguji hatinya, apakah hati Abraham masih milik Tuhan atau milik Ishak. Tetapi Tuhan menemukan bahwa hati Abraham masih tetap tertuju padanya dan tidak teralihkan sekalipun ia dilimpahi dengan berkat yang melimpah. Bagaimana dengan Anda, masihkah hati Anda tertuju pada Tuhan? Ketika Tuhan meminta sesuatu yang bagi kita merupakan sesuatu yang sangat berharga, kalau mau jujur sering kali kita menolak, hati kita sakit, kita menjadi kecewa dengan Tuhan. Tapi biarlah melalui pelajaran mengenai Abraham ini menguatkan kita.
Sunday, July 11, 2010
Pemimpin yang dipimpin (Yehezkiel 48:21-22)
Kitab Yehezkiel adalah kitab terpanjang dari semua kitab di dalam Alkitab. Kitab ini merupakan salah satu kitab yang paling gamblang dalam pemaparan visualnya. Setiap penggambaran di dalam kitab Yehezkiel memiliki makna penting. Pemaparan tata letak Israel yang baru kini beralih pada perencanaan letak wilayah kerajaan.
TUHAN mengkhususkan satu blok wilayah di tengah Israel untuk kehidupan bersama. Ketujuh suku di utara dan kelima suku di selatan dipisahkan oleh satu strip wilayah yang terdiri atas wilayah kerajaan dan wilayah berbentuk persegi yang dikhususkan untuk TUHAN. Wilayah di tengah ini merupakan wilayah pemersatu dan fokus kehidupan Israel. Pusat kehidupan beragama, sosial, dan politik ada di situ.
Sebagaimana tata letak yang TUHAN berikan mengatur kehidupan Israel sebagai bangsa dan umat, begitulah TUHAN menghendaki agar jelas bagi semua orang keluarga kerajaan, seluruh rakyat, dan semua bangsa lain bahwa di Israel, kekuasaan tertinggi terletak pada TUHAN, bukan di tangan raja. Bisa saja TUHAN menyediakan dua
wilayah berbeda, satu dikhususkan untuk TUHAN dan yang lain untuk raja, tetapi itu bisa dimaknai sebagai pemisahan kekuasaan antara TUHAN dan raja, dua kekuasaan yang saling independen.
Raja adalah alat TUHAN untuk memimpin umat. Namun tidak terjadi pemisahan kekuasaan antara raja dan TUHAN. Raja mengatur kehidupan sosial-politik, dan TUHAN mengatur kehidupan beragama. TUHAN mengatur kehidupan raja dan melalui raja, TUHAN mengatur kehidupan rakyat. Raja harus tunduk kepada TUHAN. Itulah pesan yang hendak disampaikan melalui tata letak wilayah Israel yang berjenjang. Inilah tatanan sosial-kemasyarakatan yang baru, sebuah Israel ideal yang TUHAN janjikan kepada umat-Nya.
Jika TUHAN memercayakan kepada Anda tugas untuk memimpin orang lain, bagaimana Anda memposisikan diri sebagai pemimpin yang takut akan TUHAN? Bagaimana Anda mengizinkan TUHAN memimpin melalui jabatan Anda? Sumber E-SH
TUHAN mengkhususkan satu blok wilayah di tengah Israel untuk kehidupan bersama. Ketujuh suku di utara dan kelima suku di selatan dipisahkan oleh satu strip wilayah yang terdiri atas wilayah kerajaan dan wilayah berbentuk persegi yang dikhususkan untuk TUHAN. Wilayah di tengah ini merupakan wilayah pemersatu dan fokus kehidupan Israel. Pusat kehidupan beragama, sosial, dan politik ada di situ.
Sebagaimana tata letak yang TUHAN berikan mengatur kehidupan Israel sebagai bangsa dan umat, begitulah TUHAN menghendaki agar jelas bagi semua orang keluarga kerajaan, seluruh rakyat, dan semua bangsa lain bahwa di Israel, kekuasaan tertinggi terletak pada TUHAN, bukan di tangan raja. Bisa saja TUHAN menyediakan dua
wilayah berbeda, satu dikhususkan untuk TUHAN dan yang lain untuk raja, tetapi itu bisa dimaknai sebagai pemisahan kekuasaan antara TUHAN dan raja, dua kekuasaan yang saling independen.
Raja adalah alat TUHAN untuk memimpin umat. Namun tidak terjadi pemisahan kekuasaan antara raja dan TUHAN. Raja mengatur kehidupan sosial-politik, dan TUHAN mengatur kehidupan beragama. TUHAN mengatur kehidupan raja dan melalui raja, TUHAN mengatur kehidupan rakyat. Raja harus tunduk kepada TUHAN. Itulah pesan yang hendak disampaikan melalui tata letak wilayah Israel yang berjenjang. Inilah tatanan sosial-kemasyarakatan yang baru, sebuah Israel ideal yang TUHAN janjikan kepada umat-Nya.
Jika TUHAN memercayakan kepada Anda tugas untuk memimpin orang lain, bagaimana Anda memposisikan diri sebagai pemimpin yang takut akan TUHAN? Bagaimana Anda mengizinkan TUHAN memimpin melalui jabatan Anda? Sumber E-SH
Pergumulan dan doa (Kejadian 32:22-32)
Ini episode mendebarkan dalam hidup Yakub! Akhirnya Yakub sadar bahwa bukan harta kekayaan atau istri dan anak yang dapat melindungi dia dari Esau atau yang dapat diandalkan menyelesaikan masalah lama itu. Ia sendiri harus bergumul dengan Allah untuk menyelesaikan semua itu!
Seseorang bergulat dengan Yakub semalaman sampai fajar menyingsing. Tidak dikatakan siapa orang itu, tetapi ada beberapa petunjuk untuk kita simpulkan. Sesudah bergulat tanpa bisa dihentikan, Yakub akhirnya sadar dengan siapa ia sedang bergulat. Ia lalu meminta berkat (26). Orang itu memiliki kuasa sehingga berhak menanyakan dan mengubah nama Yakub menjadi Israel, tetapi ônamanyaö sendiri tetap rahasia. Ia berhak memberi atau mengubah nama, Yakub tidak punya kuasa untuk mengetahui "nama"nya.
Jika Ia Allah, bagaimana mungkin Yakub kuat semalaman bergulat melawan Dia? Jika Ia Allah yang berdaulat mengubah nama Yakub jadi Israel, bagaimana mungkin Yakub sang-gup "memaksa" Dia untuk memberkati? Hos. 12:4-5 menegaskan bahwa "Ia bergumul dengan Malaikat dan menang; ia menangis dan memohon belas kasihan kepada-Nya. Di Betel ia bertemu dengan Dia, dan di sana Dia berfirman kepadanya: yakni TUHAN, Allah semesta alam, TUHAN nama-Nya."
Yakub perlu diubah dari mengandalkan kekuatan otot dan akal jadi bergantung pada anugerah dan berkat Allah. Jika ia yang penuh dosa sanggup bergulat dengan Allah, tentu karena secara misterius Allah yang yang melawan dia itu juga yang membantu dia bertahan. Kini ia tidak lagi mengandalkan keahlian manusia berdosa dengan mengatur tipu daya. Ia memohon Allah sendiri memberkatinya. Dalam pergumulan doa yang serius dan akhirnya membuat otot dan akalnya takluk, ia akhirnya sanggup memahami hakekat berkat dalam hidup. Dan saat itu ia diubah Allah menjadi Israel.
Ketika masalah terasa berat dan diri terasa lemah, bertekun dan bergumullah dalam doa, sebab Ia menanti dengan berkat-Nya dan secara ajaib melawan-membela kita!
Sumber : e-sh
Seseorang bergulat dengan Yakub semalaman sampai fajar menyingsing. Tidak dikatakan siapa orang itu, tetapi ada beberapa petunjuk untuk kita simpulkan. Sesudah bergulat tanpa bisa dihentikan, Yakub akhirnya sadar dengan siapa ia sedang bergulat. Ia lalu meminta berkat (26). Orang itu memiliki kuasa sehingga berhak menanyakan dan mengubah nama Yakub menjadi Israel, tetapi ônamanyaö sendiri tetap rahasia. Ia berhak memberi atau mengubah nama, Yakub tidak punya kuasa untuk mengetahui "nama"nya.
Jika Ia Allah, bagaimana mungkin Yakub kuat semalaman bergulat melawan Dia? Jika Ia Allah yang berdaulat mengubah nama Yakub jadi Israel, bagaimana mungkin Yakub sang-gup "memaksa" Dia untuk memberkati? Hos. 12:4-5 menegaskan bahwa "Ia bergumul dengan Malaikat dan menang; ia menangis dan memohon belas kasihan kepada-Nya. Di Betel ia bertemu dengan Dia, dan di sana Dia berfirman kepadanya: yakni TUHAN, Allah semesta alam, TUHAN nama-Nya."
Yakub perlu diubah dari mengandalkan kekuatan otot dan akal jadi bergantung pada anugerah dan berkat Allah. Jika ia yang penuh dosa sanggup bergulat dengan Allah, tentu karena secara misterius Allah yang yang melawan dia itu juga yang membantu dia bertahan. Kini ia tidak lagi mengandalkan keahlian manusia berdosa dengan mengatur tipu daya. Ia memohon Allah sendiri memberkatinya. Dalam pergumulan doa yang serius dan akhirnya membuat otot dan akalnya takluk, ia akhirnya sanggup memahami hakekat berkat dalam hidup. Dan saat itu ia diubah Allah menjadi Israel.
Ketika masalah terasa berat dan diri terasa lemah, bertekun dan bergumullah dalam doa, sebab Ia menanti dengan berkat-Nya dan secara ajaib melawan-membela kita!
Sumber : e-sh
Wednesday, July 7, 2010
Pelayan yang berempati (1Korintus 9:19-23)
Empati merupakan syarat mutlak bagi pelayan Tuhan. Paling tidak, itulah sikap dan tindakan Paulus sepanjang pelayanannya. Dapat dikatakan bahwa prinsip ini adalah sumber efektivitas pelayanan Paulus. Apa sebenarnya empati? Apa bedanya dari simpati? Akar dari kedua kata itu adalah pathos, dari bahasa Yunani yang berarti perasaan. Simpati adalah sikap yang membuat orang merasakan perasaan atau suasana batin orang lain, sedangkan empati berarti sikap yang membuat orang masuk atau menempatkan diri dalam posisi orang lain sehingga ia memahami posisi dan kondisi orang tersebut.
Kepada orang Yunani, Paulus jadi seperti orang Yunani. Kepada orang bertaurat Paulus bagai Yahudi saleh yang menjunjung ting-gi Taurat. Terjemahan ke suasana sekarang, kira-kira begini: kepada orang Jawa, saya (nonJawa) jadi seperti orang Jawa (bahasa, cara berpikir, dll.). Kepada orang yang kritis, pelayan Tuhan berpikir secara kritis pula (Injil tidak gampangan). Kepada orang lemah, sang pelayan tidak datang sebagai orang sempurna tak ke-nal gagal atau masalah. Kepada orang kaya, pelayan Tuhan bersikap kaya juga (mungkin bukan kaya harta materi, tetapi kaya dalam anugerah-Nya yang melimpah). Kepada orang terpinggir (entah karena stigmam sosial, kemiskinan, dosa, dlsb.) sang pelayan datang sebagai anak hilang yang ditemukan Bapa surgawi yang murah hati.
Semoga contoh-contoh tadi menolong kita menyelami maksud Paulus: bukan menganjurkan sikap kompromis membunglon, tetapi sikap konsisten dengan Allah yang dalam Kristus menjadi manusia sejati. Inkarnasi Kristus yang sesungguhnya lebih dalam dari empati, itulah sumber dari prinsip pelayanan Paulus. Dengan berinkarnasi Kristus menjadi sesama manusia. Ia berkawan dengan pemungut cukai, pelacur, tanpa ikut terseret arus dosa mereka. Ia menyentuh orang kusta, orang sakit pendarahan, tanpa dinajiskan tetapi merangkul, menerima, memulihkan mereka jadi utuh seperti rencana Allah semula. Dengan kata lain, kelimpahan anugerah Allah membuat pelayan Tuhan berempati, yaitu berbagi apa yang ia miliki kepada orang yang tidak memiliki, tetapi juga memikul beban orang lain sehingga orang itu diringankan. E-SH
Kepada orang Yunani, Paulus jadi seperti orang Yunani. Kepada orang bertaurat Paulus bagai Yahudi saleh yang menjunjung ting-gi Taurat. Terjemahan ke suasana sekarang, kira-kira begini: kepada orang Jawa, saya (nonJawa) jadi seperti orang Jawa (bahasa, cara berpikir, dll.). Kepada orang yang kritis, pelayan Tuhan berpikir secara kritis pula (Injil tidak gampangan). Kepada orang lemah, sang pelayan tidak datang sebagai orang sempurna tak ke-nal gagal atau masalah. Kepada orang kaya, pelayan Tuhan bersikap kaya juga (mungkin bukan kaya harta materi, tetapi kaya dalam anugerah-Nya yang melimpah). Kepada orang terpinggir (entah karena stigmam sosial, kemiskinan, dosa, dlsb.) sang pelayan datang sebagai anak hilang yang ditemukan Bapa surgawi yang murah hati.
Semoga contoh-contoh tadi menolong kita menyelami maksud Paulus: bukan menganjurkan sikap kompromis membunglon, tetapi sikap konsisten dengan Allah yang dalam Kristus menjadi manusia sejati. Inkarnasi Kristus yang sesungguhnya lebih dalam dari empati, itulah sumber dari prinsip pelayanan Paulus. Dengan berinkarnasi Kristus menjadi sesama manusia. Ia berkawan dengan pemungut cukai, pelacur, tanpa ikut terseret arus dosa mereka. Ia menyentuh orang kusta, orang sakit pendarahan, tanpa dinajiskan tetapi merangkul, menerima, memulihkan mereka jadi utuh seperti rencana Allah semula. Dengan kata lain, kelimpahan anugerah Allah membuat pelayan Tuhan berempati, yaitu berbagi apa yang ia miliki kepada orang yang tidak memiliki, tetapi juga memikul beban orang lain sehingga orang itu diringankan. E-SH
Allah Terus Mengikuti (Kejadian 31:1-21)
Jika Anda adalah Yakub yang mengalami empat belas tahun masa sulit dalam kerja keras tanpa upah, apa yang akan Anda pikirkan tentang Allah? Percayakah Anda bahwa segala yang terjadi di masa itu merupakan penyertaan Allah?
Sesudah empat belas tahun Yakub jadi pekerja keras berintegritas, barulah dibukakan bahwa selama itu Allah terus menerus menyertai dia. Hasil kerja Yakub yang menguntungkan Laban pun sebenarnya adalah bukti penyertaan dan berkat Allah. Penyertaan dan berkat Allah paling berharga adalah berbagai pelajaran yang harus Yakub terima, yang berpengaruh pada perubahan drastis dalam karakter dan tindak tanduknya. Sungguh penyertaan dan berkat terbesar Allahn bagi umatNya adalah ketika Ia memecah dan menggosok kita dari batu rongsokan jadi batu berharga yang gemerlapan.
Ada saat Allah menyertai diam-diam seperti Yakub alami empat belas tahun. Ada saat Allah membuat penyertaan-Nya nyata, yaitu saat Ia mengintervensi sampai sepuluh kali dengan mementahkan upaya Laban untuk tidak berbagi anak ternak kepada Yakub. Jelas bahwa "trik" bodoh yang terpikir oleh Yakub sesungguhnya adalah cara intervensi Tuhan. Di bolak-balik bagaimana pun oleh Laban, berkat Allah tetap jatuh ke Yakub. Dari kejadian ini terlihat kontras orang dunia yang terikat harta dengan umat yang mengandalkan Tuhan.
Di puncak episode ini, Allah menjelaskan apa yang telah Ia lakukan kepada Yakub; mengokohkan panggilan dan berkat-Nya kepada Yakub sebagai penerus kakek dan ayahnya. Sangat mengharukan ketika Allah menegaskan bahwa Dialah Allah yang menyatakan diri kepada Yakub di Betel. Empat belas tahun Allah mengikuti Yakub, tetapi sampai detik genting itu belum juga keluar pengakuan Yakub bahwa Allah kakek dan ayahnya adalah juga Allahnya pribadi. Allah mengejar Yakub dan menunggu sampai pengakuan itu lahir, tanda bahwa relasi sedang terjalin!
Dalam rencana Allah, berkat sesungguhnya adalah relasi dengan Allah, bukan sekadar berkat moral atau material. E-SH
Sesudah empat belas tahun Yakub jadi pekerja keras berintegritas, barulah dibukakan bahwa selama itu Allah terus menerus menyertai dia. Hasil kerja Yakub yang menguntungkan Laban pun sebenarnya adalah bukti penyertaan dan berkat Allah. Penyertaan dan berkat Allah paling berharga adalah berbagai pelajaran yang harus Yakub terima, yang berpengaruh pada perubahan drastis dalam karakter dan tindak tanduknya. Sungguh penyertaan dan berkat terbesar Allahn bagi umatNya adalah ketika Ia memecah dan menggosok kita dari batu rongsokan jadi batu berharga yang gemerlapan.
Ada saat Allah menyertai diam-diam seperti Yakub alami empat belas tahun. Ada saat Allah membuat penyertaan-Nya nyata, yaitu saat Ia mengintervensi sampai sepuluh kali dengan mementahkan upaya Laban untuk tidak berbagi anak ternak kepada Yakub. Jelas bahwa "trik" bodoh yang terpikir oleh Yakub sesungguhnya adalah cara intervensi Tuhan. Di bolak-balik bagaimana pun oleh Laban, berkat Allah tetap jatuh ke Yakub. Dari kejadian ini terlihat kontras orang dunia yang terikat harta dengan umat yang mengandalkan Tuhan.
Di puncak episode ini, Allah menjelaskan apa yang telah Ia lakukan kepada Yakub; mengokohkan panggilan dan berkat-Nya kepada Yakub sebagai penerus kakek dan ayahnya. Sangat mengharukan ketika Allah menegaskan bahwa Dialah Allah yang menyatakan diri kepada Yakub di Betel. Empat belas tahun Allah mengikuti Yakub, tetapi sampai detik genting itu belum juga keluar pengakuan Yakub bahwa Allah kakek dan ayahnya adalah juga Allahnya pribadi. Allah mengejar Yakub dan menunggu sampai pengakuan itu lahir, tanda bahwa relasi sedang terjalin!
Dalam rencana Allah, berkat sesungguhnya adalah relasi dengan Allah, bukan sekadar berkat moral atau material. E-SH
Tuesday, July 6, 2010
Pembelaan Allah dan Pembelaan Yakub (Kejadian 31:22-42)
Bagaimana kita harus menghadapi tuduhan dan tekanan dari orang yang membuat banyak masalah agar kita tidak terprovokasi? Sejauh mana kita patut memaparkan kebenaran kita kepada orang yang telah bersalah kepada kita?
Tanpa Yakub berbuat apa pun, Allah sendiri membela dia. Allah menampakkan diri kepada Laban dan memberi peringatan keras agar tidak bersikap macam-macam dan mengucapkan perkataan yang tidak pantas kepada Yakub. Bisa kita simpulkan bahwa peringatan keras ini harus Allah tegaskan karena Laban adalah tipe orang yang keras dan berkata seenak perut sendiri. Bahkan sesudah endapat peringatan pun, semua tuduhan yang ia lancarkan kepada Yakub masih terasa menekan. Melalui peristiwa ini Yakub sekali lagi mengalami bagaimana Allah memihak dia. Sebab Allah punya rencana agung melalui dia, dan Allah ingin agar Yakub masuk dalam relasi yang hidup dengan-Nya.
Ada tiga tuduhan Laban. Pertama, Yakub melarikan diri. Kedua, ia lari diam-diam. Tersirat bahwa Yakub dianggap melarikan harta yang masih dianggap milik Laban. Ketiga, Yakub mencuri sesembahannya. Semua tuduhan itu tidak benar kecuali yang ketiga, tetapi yang mencuri pun bukan Yakub melainkan Rahel. Yakub sudah meminta izin untuk kembali ke tanah leluhurnya, maka tuduhan bahwa ia lari tidak benar. Yakub memang merancang kepergian diam-diam sebab Laban menunjukkan gelagat tidak rela melepas.
Menghadapi tuduhan ini Yakub, yang sebetulnya berwatak lembut dan sudah berubah karena pembentukan Ilahi, terpancing membela diri dengan nada marah. Ada tempat untuk membela diri dan marah karena alasan yang benar, maka Yakub menelanjangi ketidakadilan Laban. Yang indah, di bagian akhir pembelaannya secara tersamar Yakub mengakui campur tangan Allah membela dan memelihara dirinya.
Tuduhan tidak adil yang harus Yakub tanggung, dan mungkin kita alami juga, dapat menjadi alat Allah untuk membimbing ke dalam relasi yang hidup yang Ia inginkan. E-sh
Tanpa Yakub berbuat apa pun, Allah sendiri membela dia. Allah menampakkan diri kepada Laban dan memberi peringatan keras agar tidak bersikap macam-macam dan mengucapkan perkataan yang tidak pantas kepada Yakub. Bisa kita simpulkan bahwa peringatan keras ini harus Allah tegaskan karena Laban adalah tipe orang yang keras dan berkata seenak perut sendiri. Bahkan sesudah endapat peringatan pun, semua tuduhan yang ia lancarkan kepada Yakub masih terasa menekan. Melalui peristiwa ini Yakub sekali lagi mengalami bagaimana Allah memihak dia. Sebab Allah punya rencana agung melalui dia, dan Allah ingin agar Yakub masuk dalam relasi yang hidup dengan-Nya.
Ada tiga tuduhan Laban. Pertama, Yakub melarikan diri. Kedua, ia lari diam-diam. Tersirat bahwa Yakub dianggap melarikan harta yang masih dianggap milik Laban. Ketiga, Yakub mencuri sesembahannya. Semua tuduhan itu tidak benar kecuali yang ketiga, tetapi yang mencuri pun bukan Yakub melainkan Rahel. Yakub sudah meminta izin untuk kembali ke tanah leluhurnya, maka tuduhan bahwa ia lari tidak benar. Yakub memang merancang kepergian diam-diam sebab Laban menunjukkan gelagat tidak rela melepas.
Menghadapi tuduhan ini Yakub, yang sebetulnya berwatak lembut dan sudah berubah karena pembentukan Ilahi, terpancing membela diri dengan nada marah. Ada tempat untuk membela diri dan marah karena alasan yang benar, maka Yakub menelanjangi ketidakadilan Laban. Yang indah, di bagian akhir pembelaannya secara tersamar Yakub mengakui campur tangan Allah membela dan memelihara dirinya.
Tuduhan tidak adil yang harus Yakub tanggung, dan mungkin kita alami juga, dapat menjadi alat Allah untuk membimbing ke dalam relasi yang hidup yang Ia inginkan. E-sh
Monday, July 5, 2010
Menghapus noda dengan noda? (Kejadian 34:1-31)
Noda yang sangat mengguncangkan kehidupan keluarga Yakub terjadi karena Dina, putri Yakub satu-satunya, diperkosa oleh Sikhem, anak Hemor, raja orang Hewi. Seharusnya sebagai pendatang, tidak pada tempatnya Dina yang baru berusia sekitar 15-16 tahun itu berjalan-jalan untuk melihat (dan dilihat) orang yang belum dikenal. Prinsip pergaulan seharusnya ditanamkan dengan baik oleh ayah dan ibunya, tetapi tidak demikian rupanya. Maka terjadilah musibah itu. Sikhem melarikan Dina dan memperkosa dia. Meski Sikhem telah berbuat salah, tetapi ia jatuh cinta kepada Dina dan meminta izin untuk boleh mengawini Dina.
Sesudah terjadi musibah itu Yakub tidak mengambil tindakan apa pun. Ia mendiamkan perkara itu sampai anak-anaknya pulang. Reaksi anak-anaknya yang menganggap kehormatan keluarga telah ternoda oleh pemerkosaan terhadap Dina, bercampur antara sakit hati dan marah (7). Niat baik Sikhem dan lamaran yang diajukan ayahnya tidak dapat menghapuskan sakit hati anak-anak Yakub. Nyata kemudian bahwa sakit hati dan kemarahan tidak menghasilkan pertimbangan yang didasari oleh kebajikan dan kebijakan. Sebaliknya dari merespons dengan tepat, mereka melakukan rencana jahat. Mereka berpura-pura menerima permintaan tersebut, tetapi mengajukan prasyarat religius. Sikhem, Hemor, dan semua laki-laki orang Hewi harus disunat. Suatu permintaan yang terkesan benar karena mengatasnamakan aturan agama, padahal berisi tipu muslihat keji.
Setelah sunat massal dan saat semua laki-laki orang Hewi sedang kesakitan, Simeon dan Lewi menyerang mereka secara keji. Bisa dibayangkan apa yang terjadi. Orang-orang yang kesakitan sesudah disunat menjadi korban kekejaman Simeon dan Lewi. Tidak cukup sampai di situ, mereka juga menjarah dan menawan anak serta perempuan orang Hewi.
Noda dapat dihindari dengan perilaku saleh. Namun saat noda terjadi, harus diatasi dengan motif dan tindakan benar, bukan amarah, sakit hati, dan memperalat aturan kesalehan! e-sh
Sesudah terjadi musibah itu Yakub tidak mengambil tindakan apa pun. Ia mendiamkan perkara itu sampai anak-anaknya pulang. Reaksi anak-anaknya yang menganggap kehormatan keluarga telah ternoda oleh pemerkosaan terhadap Dina, bercampur antara sakit hati dan marah (7). Niat baik Sikhem dan lamaran yang diajukan ayahnya tidak dapat menghapuskan sakit hati anak-anak Yakub. Nyata kemudian bahwa sakit hati dan kemarahan tidak menghasilkan pertimbangan yang didasari oleh kebajikan dan kebijakan. Sebaliknya dari merespons dengan tepat, mereka melakukan rencana jahat. Mereka berpura-pura menerima permintaan tersebut, tetapi mengajukan prasyarat religius. Sikhem, Hemor, dan semua laki-laki orang Hewi harus disunat. Suatu permintaan yang terkesan benar karena mengatasnamakan aturan agama, padahal berisi tipu muslihat keji.
Setelah sunat massal dan saat semua laki-laki orang Hewi sedang kesakitan, Simeon dan Lewi menyerang mereka secara keji. Bisa dibayangkan apa yang terjadi. Orang-orang yang kesakitan sesudah disunat menjadi korban kekejaman Simeon dan Lewi. Tidak cukup sampai di situ, mereka juga menjarah dan menawan anak serta perempuan orang Hewi.
Noda dapat dihindari dengan perilaku saleh. Namun saat noda terjadi, harus diatasi dengan motif dan tindakan benar, bukan amarah, sakit hati, dan memperalat aturan kesalehan! e-sh
Friday, June 25, 2010
Menghormati kekudusan Allah (Yehezkiel 46:19-24)
Sebagai rumah Allah, Bait Suci dibuat sedemikian rupa dengan memperhatikan kemahakudusan Allah. Bukan hanya pembagian pelataran, bahkan pembagian dapur pun dibuat dengan memperhatikan hal itu. Memang semua detail dalam rancangan Bait itu ditentukan
oleh Allah sendiri.
Ada dua dapur di Bait Allah yang diperlihatkan pada Yehezkiel. Satu untuk para imam dan yang lain untuk jemaat. Yang satu terletak di sebelah utara tempat kudus (ayat 19). Lokasi ini dipakai untuk memasak korban penebus salah dan korban penghapus dosa, serta untuk membakar korban sajian (ayat 20). Tugas memasak korban-korban tersebut dilakukan oleh para imam. Para imam juga diberi hak istimewa untuk menikmati bagian dari persembahan yang diperuntukkan bagi mereka. Dan dapur itulah yang menjadi tempat makan para imam. Posisi dapur tersebut memungkinkan imam untuk tidak bertemu jemaat agar mereka tidak mentransmisikan kekudusan kepada umat (bnd. Yeh. 44:19). Betapa agungnya kekudusan Allah hingga umat tidak bisa sembarangan memasuki tempat kudus-Nya, meskipun tempat itu hanya berfungsi sebagai sebuah dapur.
Dapur yang kedua terletak di pelataran luar, di keempat sudutnya. Yang memasak adalah petugas-petugas Bait Suci, suatu jabatan yang lebih rendah dari imam (bnd. Yeh. 44:11). Korban sembelihan dari umat Tuhan disiapkan di dapur ini.
Pembagian dua jenis dapur di Bait Allah dan berbagai aktivitas yang telah dirancang untuk dilakukan didalamnya, memperlihatkan adanya gradasi kekudusan seperti yang terdapat di pelataran. Ini mengajarkan tentang kekudusan Allah yang tidak bisa dibuat main-main. Tidak sembarang orang boleh memasukinya. Meski demikian kita juga melihat bahwa Allah bukanlah Allah yang tidak terhampiri. Ia ingin juga bersekutu dengan umat-Nya. Karena itu ada tempat yang disediakan bagi umat. Dari sini kita belajar bahwa ibadah di dalam berbagai aspeknya harus dilakukan dengan penuh penghormatan kepada kekudusan Allah.
oleh Allah sendiri.
Ada dua dapur di Bait Allah yang diperlihatkan pada Yehezkiel. Satu untuk para imam dan yang lain untuk jemaat. Yang satu terletak di sebelah utara tempat kudus (ayat 19). Lokasi ini dipakai untuk memasak korban penebus salah dan korban penghapus dosa, serta untuk membakar korban sajian (ayat 20). Tugas memasak korban-korban tersebut dilakukan oleh para imam. Para imam juga diberi hak istimewa untuk menikmati bagian dari persembahan yang diperuntukkan bagi mereka. Dan dapur itulah yang menjadi tempat makan para imam. Posisi dapur tersebut memungkinkan imam untuk tidak bertemu jemaat agar mereka tidak mentransmisikan kekudusan kepada umat (bnd. Yeh. 44:19). Betapa agungnya kekudusan Allah hingga umat tidak bisa sembarangan memasuki tempat kudus-Nya, meskipun tempat itu hanya berfungsi sebagai sebuah dapur.
Dapur yang kedua terletak di pelataran luar, di keempat sudutnya. Yang memasak adalah petugas-petugas Bait Suci, suatu jabatan yang lebih rendah dari imam (bnd. Yeh. 44:11). Korban sembelihan dari umat Tuhan disiapkan di dapur ini.
Pembagian dua jenis dapur di Bait Allah dan berbagai aktivitas yang telah dirancang untuk dilakukan didalamnya, memperlihatkan adanya gradasi kekudusan seperti yang terdapat di pelataran. Ini mengajarkan tentang kekudusan Allah yang tidak bisa dibuat main-main. Tidak sembarang orang boleh memasukinya. Meski demikian kita juga melihat bahwa Allah bukanlah Allah yang tidak terhampiri. Ia ingin juga bersekutu dengan umat-Nya. Karena itu ada tempat yang disediakan bagi umat. Dari sini kita belajar bahwa ibadah di dalam berbagai aspeknya harus dilakukan dengan penuh penghormatan kepada kekudusan Allah.
Wednesday, June 23, 2010
Pelayan sebagai teladan (1Korintus 9:1-18)
Mengapa banyak pelayan Tuhan tak bisa memberikan teladan yang baik? Mengapa sulit menjadi teladan? Khususnya bila menyangkut sikap dan perilaku di seputar uang, harta milik, atau fasilitas.
Penyebabnya adalah karena yang bersangkutan tidak menempatkan hak dan pengorbanan secara tepat dan seimbang. Pertama, pelayan Tuhan harus hati-hati tentang haknya. Sifat dosa dapat membuat pelayan Tuhan egois sehingga bukan melayani sebaliknya menuntut pelayanan. Tak tertutup kemungkinan malah menjadikan Tuhan sebagai pelayan kepentingan dan kehormatan dirinya. Sebagai rasul, Paulus sebenarnya sudah berbuat sangat banyak. Secara manusiawi ia boleh disebut telah membuat jemaat Korintus berhutang Injil kepada Paulus. Maksudnya, pelayanan Pauluslah yang telah membuat mereka mengenal Kristus. Kegigihan dan
pengorbanan Paulus telah menghasilkan banyak karunia yang dinikmati jemaat Korintus. Maka sebenarnya Paulus berhak atas hal-hal yang wajar, seperti membawa istri, beroleh tunjangan hidup, tidak usah bekerja agar dapat konsentrasi pada pelayanan, dsb. Menerima hak secara wajar adalah prinsip pertama agar seorang pelayan Tuhan menjadi teladan. Hanya jika ia menuntut lebih dari yang wajar, maka ia jatuh ke dalam ketamakan, keegoisan, dan menimbulkan citra buruk.
Kedua, keteladanan juga menyangkut kesediaan berkorban. Hak wajar yang seharusnya Paulus terima telah ia korbankan untuk menunjang kemajuan pelayanan. Maka karena tak beristri, ia tak perlu ongkos ekstra atau berbagi perhatian. Karena bekerja, ia tidak bergantung secara finansial pada dukungan pihak lain. Paulus meninggalkan keteladanan yang sangat terpuji. Namun di sini kita harus hati-hati. Berkorban berlebihan dalam pelayanan pun dapat membuat pelayan Tuhan meninggalkan teladan buruk. Jika pelayan Tuhan bekerja berlebihan sampai sakit-sakitan, misalnya. Atau sampai membuat anak-anaknya kehilangan ayah atau ibu karena mereka tidak punya waktu.
Maka layanilah Tuhan dan sesama dengan menjadi teladan, yaitu dengan membatasi hak dengan pengorbanan, pengorbanan dengan hak, secara
seimbang. Sumber : E sabda
Penyebabnya adalah karena yang bersangkutan tidak menempatkan hak dan pengorbanan secara tepat dan seimbang. Pertama, pelayan Tuhan harus hati-hati tentang haknya. Sifat dosa dapat membuat pelayan Tuhan egois sehingga bukan melayani sebaliknya menuntut pelayanan. Tak tertutup kemungkinan malah menjadikan Tuhan sebagai pelayan kepentingan dan kehormatan dirinya. Sebagai rasul, Paulus sebenarnya sudah berbuat sangat banyak. Secara manusiawi ia boleh disebut telah membuat jemaat Korintus berhutang Injil kepada Paulus. Maksudnya, pelayanan Pauluslah yang telah membuat mereka mengenal Kristus. Kegigihan dan
pengorbanan Paulus telah menghasilkan banyak karunia yang dinikmati jemaat Korintus. Maka sebenarnya Paulus berhak atas hal-hal yang wajar, seperti membawa istri, beroleh tunjangan hidup, tidak usah bekerja agar dapat konsentrasi pada pelayanan, dsb. Menerima hak secara wajar adalah prinsip pertama agar seorang pelayan Tuhan menjadi teladan. Hanya jika ia menuntut lebih dari yang wajar, maka ia jatuh ke dalam ketamakan, keegoisan, dan menimbulkan citra buruk.
Kedua, keteladanan juga menyangkut kesediaan berkorban. Hak wajar yang seharusnya Paulus terima telah ia korbankan untuk menunjang kemajuan pelayanan. Maka karena tak beristri, ia tak perlu ongkos ekstra atau berbagi perhatian. Karena bekerja, ia tidak bergantung secara finansial pada dukungan pihak lain. Paulus meninggalkan keteladanan yang sangat terpuji. Namun di sini kita harus hati-hati. Berkorban berlebihan dalam pelayanan pun dapat membuat pelayan Tuhan meninggalkan teladan buruk. Jika pelayan Tuhan bekerja berlebihan sampai sakit-sakitan, misalnya. Atau sampai membuat anak-anaknya kehilangan ayah atau ibu karena mereka tidak punya waktu.
Maka layanilah Tuhan dan sesama dengan menjadi teladan, yaitu dengan membatasi hak dengan pengorbanan, pengorbanan dengan hak, secara
seimbang. Sumber : E sabda
Thursday, June 17, 2010
Pemberita dan Pelaku Injil (Kisah Para Rasul 19:1-12)
Sudah berapa lama Anda menyatakan diri sebagai orang Kristen? Apakah Anda memiliki sebuah hubungan pribadi yang indah dengan Dia? Menepati janji untuk kembali ke Efesus jika Tuhan menghendaki (Kis. 18:21), Paulus datang setahun kemudian ke kota itu. Di situ ia menemukan dua belas orang murid (1, 7). Namun ketika Paulus berbicara dengan mereka, ia merasakan sesuatu yang janggal sampai akhirnya ia menanyakan apakah mereka pernah mendengar tentang Roh Kudus (2). Ternyata belum. Mungkin mereka mengenal dan percaya pada Mesias secara umum saja, yakni berdasarkan penyataan yang tertulis dalam Perjanjian Lama. Atau paling jauh, pengenalan berdasarkan khotbah Yohanes Pembaptis. Kita tentu masih ingat bahwa seperti ini jugalah keadaan Apolos sebelum ia bertemu dengan Akwila dan Priskila. Maka seperti Akwila dan Priskila mengajar Apolos, begitu pulalah Paulus mengajar kedua belas orang tersebut. Lalu ketika mereka percaya, mereka semua menerima Roh Kudus (4-6), sama seperti orang-orang percaya di Yerusalem pada peristiwa Pentakosta (Kis. 2), atau peristiwa di Samaria (Kis. 8), atau di Kaisarea (Kis. 10).
Injil memang perlu disampaikan kepada orang-orang yang belum pernah mendengar, tetapi kita juga telah mempelajari bahwa Injil juga perlu diberitakan kepada orang-orang yang belum memahami bahwa orang perlu diperdamaikan dengan Allah melalui Anak-Nya, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Hanya melalui Kristus saja orang dapat diselamatkan dan memiliki hubungan baik dengan Allah. Dan bila orang menerima keselamatan maka pada saat itu ia akan menerima Roh Kudus. Sebaliknya menerima Roh Kudus merupakan tanda bahwa seseorang telah diselamatkan.
Tentu saja orang yang mengalami kehadiran Roh Kudus akan terlihat nyata dalam kehidupannya. Bagaimana dengan hidup Anda? Akankah orang melihat kehadiran, damai, dan kuasa Roh Kudus dalam hidup Anda? Ataukah bila melihat Anda, orang masih meragukan ada Allah dalam hidup Anda?
Sumber : E-SABDA
Injil memang perlu disampaikan kepada orang-orang yang belum pernah mendengar, tetapi kita juga telah mempelajari bahwa Injil juga perlu diberitakan kepada orang-orang yang belum memahami bahwa orang perlu diperdamaikan dengan Allah melalui Anak-Nya, yaitu Tuhan Yesus Kristus. Hanya melalui Kristus saja orang dapat diselamatkan dan memiliki hubungan baik dengan Allah. Dan bila orang menerima keselamatan maka pada saat itu ia akan menerima Roh Kudus. Sebaliknya menerima Roh Kudus merupakan tanda bahwa seseorang telah diselamatkan.
Tentu saja orang yang mengalami kehadiran Roh Kudus akan terlihat nyata dalam kehidupannya. Bagaimana dengan hidup Anda? Akankah orang melihat kehadiran, damai, dan kuasa Roh Kudus dalam hidup Anda? Ataukah bila melihat Anda, orang masih meragukan ada Allah dalam hidup Anda?
Sumber : E-SABDA
Wednesday, June 16, 2010
Karena Engkau, Aku Menanggung Cela (Mazmur 69:1-19)
Ada seorang ibu yang banyak menderita. Ia pernah mengalami sakit hebat karena kecelakaan saat mengerjakan urusan rumahtangga. Ia pernah menderita fisik karena harus bekerja keras mencari tambahan nafkah sesudah suaminya pensiun. Ia pernah mengalami ketidakadilan. Puji Tuhan, dalam anugerah ia dapat mengatasi semua itu.
Pemazmur menderita lebih berat lagi. Penderitaan apakah yang dia gambarkan sebagai banjir atau rawa yang membuat dia nyaris tenggelam (ayat 2-3)? Yang membuat ia berdoa tanpa henti dan karena begitu sering berkeluh-kesah membuat kerongkongannya kering dan matanya nyeri (ayat 4)? Ia sadar bahwa ia adalah manusia biasa yang berdosa (ayat 6). Namun jelas bahwa penderitaan yang dia tanggung bukanlah hukuman Tuhan atas dosa-dosanya. Ia menderita karena keberpihakannya kepada Allah membuat orang membenci dia. Dan dunia ini kejam sekali. Mereka berkomplot melawan orang yang mengasihi Allah (ayat 5). Bahkan, entah karena ikut berkomplot atau karena takut terkena "getah," sanak saudaranya ikut membuang dia (ayat 9). Itulah penderitaan terberat, karena orang-orang terdekat menganggap dia sebagai orang berbahaya dan harus disingkirkan. Ia juga jadi objek sindiran (ayat 13).
Penderitaan, dalam terang Alkitab adalah senjata Allah menangguhkan iman (lih. Rm. 5:3-5; 1Ptr. 1:6-7). Dalam hal pemazmur, penderitaan membuat dia rindu akan pemulihan rohani yang bukan untuk kepentingan sendiri, tetapi kepentingan orang lain. Ia mengharapkan pelepasan supaya orang beriman lainnya tidak tawar hati (ayat 7). Namun berkat terindah dari menanggung cela karena Allah ialah penegasan iman kepada perkenan Allah, kasih setia-Nya, dan pertolongan-Nya (ayat 14). Irama sumbang para pengejeknya kini menyingkir menjadi latarbelakang yang tak berarti. Orang yang menderita ini masuk ke dalam hadirat kasih anugerah Allah yang ajaib. Kepada Allah, ia mempertaruhkan kasusnya. Dari Allah, ia beroleh peluputan yang mengalir semata dari anugerah perjanjian Allah yang terpercaya!
Sumber : E-Sabda
Pemazmur menderita lebih berat lagi. Penderitaan apakah yang dia gambarkan sebagai banjir atau rawa yang membuat dia nyaris tenggelam (ayat 2-3)? Yang membuat ia berdoa tanpa henti dan karena begitu sering berkeluh-kesah membuat kerongkongannya kering dan matanya nyeri (ayat 4)? Ia sadar bahwa ia adalah manusia biasa yang berdosa (ayat 6). Namun jelas bahwa penderitaan yang dia tanggung bukanlah hukuman Tuhan atas dosa-dosanya. Ia menderita karena keberpihakannya kepada Allah membuat orang membenci dia. Dan dunia ini kejam sekali. Mereka berkomplot melawan orang yang mengasihi Allah (ayat 5). Bahkan, entah karena ikut berkomplot atau karena takut terkena "getah," sanak saudaranya ikut membuang dia (ayat 9). Itulah penderitaan terberat, karena orang-orang terdekat menganggap dia sebagai orang berbahaya dan harus disingkirkan. Ia juga jadi objek sindiran (ayat 13).
Penderitaan, dalam terang Alkitab adalah senjata Allah menangguhkan iman (lih. Rm. 5:3-5; 1Ptr. 1:6-7). Dalam hal pemazmur, penderitaan membuat dia rindu akan pemulihan rohani yang bukan untuk kepentingan sendiri, tetapi kepentingan orang lain. Ia mengharapkan pelepasan supaya orang beriman lainnya tidak tawar hati (ayat 7). Namun berkat terindah dari menanggung cela karena Allah ialah penegasan iman kepada perkenan Allah, kasih setia-Nya, dan pertolongan-Nya (ayat 14). Irama sumbang para pengejeknya kini menyingkir menjadi latarbelakang yang tak berarti. Orang yang menderita ini masuk ke dalam hadirat kasih anugerah Allah yang ajaib. Kepada Allah, ia mempertaruhkan kasusnya. Dari Allah, ia beroleh peluputan yang mengalir semata dari anugerah perjanjian Allah yang terpercaya!
Sumber : E-Sabda
Saturday, June 5, 2010
Memancarkan karakter Allah (Yehezkiel 48:1-8)
Tanah Israel dibagi dengan cara yang berbeda dibandingkan sebelum pembuangan. Ada pola yang sangat konsentris di dalam sistem pembagian itu. Tiap suku mendapat wilayah yang memanjang dari tepi Barat hingga tepi Timur wilayah yang baru. Suku Dan menempati wilayah paling utara. Tiga suku yang pertama disebut berasal dari para budak. Manasye dan Efraim adalah anak-anak Yusuf. Ruben adalah putra sulung Yakub. Yehuda memperoleh tempat prestisius, yang berbatasan dengan tanah yang dikhususkan sebagaipersembahan untuk TUHAN, karena Mesias yang dijanjikan akan datang dari suku Yehuda.
Pembagian ini menunjukkan prioritas baru bagi Israel. Mereka akan hidup berdampingan dengan damai. Suku-suku besar tak lagi memanipulasi suku-suku kecil. Batas wilayah ditentukan sama rata (bnd. Bil. 33:54). Tiap suku mendapat wilayah yang mencakup pantai Laut Tengah di sisi barat, daerah pegunungan di tengah hingga perbatasan di timur.
Sesudah bagian Yehuda, ada satu bagian tanah yang secara khusus dipersembahkan kepada TUHAN. Bagian ini membagi Israel menjadi 7 suku di utara dan 5 suku di selatan untuk mempertahankan posisi wilayah istimewa ini di tempat Yerusalem berada. Hal yang sama juga mencerminkan pembagian Kerajaan Utara yang lebih besar dibandingkan Kerajaan Selatan sebelum Israel dibuang dari tanah perjanjian.
Seluruh aspek kehidupan umat diatur demikian demi kebaikan hidup bersama di antara suku-suku Israel. Juga agar keteraturan dan ketertiban yang mereka tampakkan memancarkan karakter Allah kepada bangsa-bangsa lain. Kehidupan umat TUHAN tidak pernah dimaksudkan melulu untuk diri sendiri atau untuk terfokus kepada TUHAN dengan cara picik.
Allah menghendaki agar kita pun memancarkan karakter-Nya melalui tiap aspek kehidupan kita. Adakah karakter Allah tercermin dalam hidup Anda? Dengan cara bagaimana keluarga, pekerjaan, pergaulan, pengelolaan keuangan, dan tiap aspek dalam hidup Anda mencerminkan karakter Allah?
Sumber : E SABDA
Pembagian ini menunjukkan prioritas baru bagi Israel. Mereka akan hidup berdampingan dengan damai. Suku-suku besar tak lagi memanipulasi suku-suku kecil. Batas wilayah ditentukan sama rata (bnd. Bil. 33:54). Tiap suku mendapat wilayah yang mencakup pantai Laut Tengah di sisi barat, daerah pegunungan di tengah hingga perbatasan di timur.
Sesudah bagian Yehuda, ada satu bagian tanah yang secara khusus dipersembahkan kepada TUHAN. Bagian ini membagi Israel menjadi 7 suku di utara dan 5 suku di selatan untuk mempertahankan posisi wilayah istimewa ini di tempat Yerusalem berada. Hal yang sama juga mencerminkan pembagian Kerajaan Utara yang lebih besar dibandingkan Kerajaan Selatan sebelum Israel dibuang dari tanah perjanjian.
Seluruh aspek kehidupan umat diatur demikian demi kebaikan hidup bersama di antara suku-suku Israel. Juga agar keteraturan dan ketertiban yang mereka tampakkan memancarkan karakter Allah kepada bangsa-bangsa lain. Kehidupan umat TUHAN tidak pernah dimaksudkan melulu untuk diri sendiri atau untuk terfokus kepada TUHAN dengan cara picik.
Allah menghendaki agar kita pun memancarkan karakter-Nya melalui tiap aspek kehidupan kita. Adakah karakter Allah tercermin dalam hidup Anda? Dengan cara bagaimana keluarga, pekerjaan, pergaulan, pengelolaan keuangan, dan tiap aspek dalam hidup Anda mencerminkan karakter Allah?
Sumber : E SABDA
Tuesday, June 1, 2010
Kuasa kehadiran Allah (Yehezkiel 47:1-12)
Masyarakat pada masa Yehezkiel memahami bahwa Bait Suci berfungsi terutama sebagai rumah Allah, selain sebagai tempat beribadah. Dan ketika Allah hadir, maka berkat Tuhan menjadi nyata bagi umat-Nya.
Bait Suci yang digambarkan Yehezkiel tak pernah jadi kenyataan, tetapi gambaran yang diberikan mengenai sungai air kehidupan mengingatkan kita kepada Taman Eden di Kej. 2 dan kepada Yerusalem yang baru di Why. 22. Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, kehilangan terbesar yang mereka alami bukanlah Taman Eden, mmelainkan hadirat Allah. Hadirat Allah inilah yang Yehezkiel lihat dijanjikan oleh Allah kepada Israel.
Dampak kehadiran Allah sangat dahsyat: air kehidupan mengalir ke wilayah Timur, menjadikan wilayah yang tidak subur itu menjadi tempat "amat banyak pohon" tumbuh subur. Bahkan Laut Mati akan penuh dengan kehidupan seperti Laut Tengah. En-Gedi dan En-Eglaim adalah dua wilayah permukiman di tepi Laut Mati, tempat di mana selama lebih dari 10.000 tahun terakhir masyarakatnya hidup dari bertambak garam. Namun Yehezkiel menyatakan bahwa masyarakat di dua tempat ini akan beralih menjadi masyarakat nelayan karena dahsyatnya sungai air kehidupan yang mengalirkan kehidupan ke salah satu habitat paling mematikan di muka bumi ini.
Bagaimana masyarakat itu akan memenuhi kebutuhan garam? Tuhan masih menyediakan deposit-deposit garam dalam kadar yang tepat untuk menyokong kehidupan umat.
Melalui semua itu kita melihat kuasa kehadiran Allah di bait-Nya dan di antara umat-Nya. Kuasa yang menghadirkan kebaikan bagi umat-Nya.
Sudah hadirkah Allah di dalam hidup Anda? Apakah orang-orang di sekitar Anda merasakan dampak yang mengalir dari hadirat Allah melalui kehidupan Anda? Sudahkah Anda menunjukkan sikap dan kesaksian yang seimbang dalam hidup Anda?
Sumber : E SABDA
Bait Suci yang digambarkan Yehezkiel tak pernah jadi kenyataan, tetapi gambaran yang diberikan mengenai sungai air kehidupan mengingatkan kita kepada Taman Eden di Kej. 2 dan kepada Yerusalem yang baru di Why. 22. Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, kehilangan terbesar yang mereka alami bukanlah Taman Eden, mmelainkan hadirat Allah. Hadirat Allah inilah yang Yehezkiel lihat dijanjikan oleh Allah kepada Israel.
Dampak kehadiran Allah sangat dahsyat: air kehidupan mengalir ke wilayah Timur, menjadikan wilayah yang tidak subur itu menjadi tempat "amat banyak pohon" tumbuh subur. Bahkan Laut Mati akan penuh dengan kehidupan seperti Laut Tengah. En-Gedi dan En-Eglaim adalah dua wilayah permukiman di tepi Laut Mati, tempat di mana selama lebih dari 10.000 tahun terakhir masyarakatnya hidup dari bertambak garam. Namun Yehezkiel menyatakan bahwa masyarakat di dua tempat ini akan beralih menjadi masyarakat nelayan karena dahsyatnya sungai air kehidupan yang mengalirkan kehidupan ke salah satu habitat paling mematikan di muka bumi ini.
Bagaimana masyarakat itu akan memenuhi kebutuhan garam? Tuhan masih menyediakan deposit-deposit garam dalam kadar yang tepat untuk menyokong kehidupan umat.
Melalui semua itu kita melihat kuasa kehadiran Allah di bait-Nya dan di antara umat-Nya. Kuasa yang menghadirkan kebaikan bagi umat-Nya.
Sudah hadirkah Allah di dalam hidup Anda? Apakah orang-orang di sekitar Anda merasakan dampak yang mengalir dari hadirat Allah melalui kehidupan Anda? Sudahkah Anda menunjukkan sikap dan kesaksian yang seimbang dalam hidup Anda?
Sumber : E SABDA
Saturday, May 29, 2010
Berdasarkan kasih karunia (Yudas 1:3-4)
Bagai musuh dalam selimut, begitulah keberadaan oknum-oknum pengajar sesat yang menyelusup masuk ke dalam komunitas orang beriman. Siapakah mereka? Mereka adalah orang-orang yang memutarbalikkan kebenaran tentang kasih karunia Tuhan agar dapat melakukan perbuatan dosa. Mereka berkata bahwa orang yang telah menerima kasih karunia Tuhan dapat melakukan apa saja yang mereka sukai. Meski perbuatan dosa sekalipun. Dan mereka tidak perlu takut akan hukuman Allah.
Masalahnya umat tampaknya tak menyadari betapa berbahayanya mereka. Sebab itulah Yudas, yang semula ingin menulis surat yang berisi pengajaran tentang keselamatan, kemudian jadi menulis tentang pengajaran sesat. Surat Yudas ini menjadi penting karena pengajaran sesat memang harus dilawan. Jika tidak, orang yang lemah iman bisa tersandung. Bila sudah terpengaruh kesesatan itu, umat akan jadi susah memahami bahwa iman yang benar harus diikuti dengan tindak tanduk dan perbuatan yang benar pula. Maka sesatlah pengajaran yang mengatakan bahwa kasih karunia Allah membebaskan orang untuk melakukan segala sesuatu, apa pun bentuknya. Ini kasih karunia murahan namanya! Artinya kasih karunia tanpa pertobatan. Seolah-olah kasih karunia justru merupakan surat izin untuk berbuat dosa. Padahal bukan demikian! Terlebih lagi, sikap hidup demikian sesungguhnya merupakan penyangkalan terhadap Tuhan Yesus!
Pengajaran yang benar adalah, kasih karunia Allah justru memberi kuasa kepada orang percaya untuk melakukan apa yang benar, yang sesuai dengan kehendak Allah. Paulus pun pernah mengatakan bahwa orang yang tidak menunjukkan pertobatan dengan terus melakukan dosa sesungguhnya bukanlah warga Kerajaan Allah (ayat 1Kor. 6:9-11; Gal. 5:19-21).
Bagaimana pemahaman kita sendiri tentang kasih karunia? Kiranya kasih karunia Allah menolong kita untuk bertumbuh dalam pemahaman iman yang benar, sehingga melaluinya kita tahu bagaimana kita harus hidup.
Sumber : E-Sabda
Pengajaran yang benar adalah, kasih karunia Allah justru memberi kuasa kepada orang percaya untuk melakukan apa yang benar, yang sesuai dengan kehendak Allah. Paulus pun pernah mengatakan bahwa orang yang tidak menunjukkan pertobatan dengan terus melakukan dosa sesungguhnya bukanlah warga Kerajaan Allah (ayat 1Kor. 6:9-11; Gal. 5:19-21).
Bagaimana pemahaman kita sendiri tentang kasih karunia? Kiranya kasih karunia Allah menolong kita untuk bertumbuh dalam pemahaman iman yang benar, sehingga melaluinya kita tahu bagaimana kita harus hidup.
Sumber : E-Sabda
Subscribe to:
Posts (Atom)